Thursday, May 17, 2012

Tatar Galuh

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh”, berasal dari kata “sakaloh” artinya ..”dari sungai asalnya”, dan dalam lidah Banyumas “ sakaloh “ tersebut menjadi “segaluh”. Dalam Bahasa Sansekerta, kata “galu” sendiri menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.

. Kerajaan Galuh berarti Kerajaan Batu Permata yang indah gemerlap, subur makmur, Gemah Ripah loh Jinawi Aman Tentreum Kertaraharja…
Dari sejarah terungkap bahwa pendiri Kerajaan Galuh adalah Wretikkandayun, ia adalah putra bungsu dari Kandiawan yang memerintah Kerajaan Kendan selama 15thn (597-612M) yang kemudian menjadi Pertapa di Layungwatang (daerah Kuningan) dan bergelar Rajawesi Dewaraja atau Sang Layungwatang. Wretikkandayun berkedudukan di Medangjati, tetapi ia mendirikan pusat pemerintahan yang baru dan diberi nama Galuh (yang lokasinya kurang lebih di desa Karang Kamulyan sekarang
Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut:
-Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain,Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan ber ibukota Medang Gili;
-Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibu kota Medang Pangramesan;
-Kerajaan Galuh Kalangon berlokasi di Roban ibu kota Medang Pangramesan;
-Kerajaan Galuh Lalean berlokasi di Cilacap ibu kota di Medang Kamulan;
-Kerajaan Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari ibu kota Banjar Pataruman;
-Kerajaan Galuh Kalingga berlokasi di Bojong ibu kota Karangkamulyan;
-Kerajaan Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung ibu kota Bagolo;
-Kerajaan Galuh Kumara berlokasi di Tegal ibu kota di Medangkamulyan;
-Kerajaan Galuh Pakuan ibu kota di Kawali;
-Kerajaan Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah ibu kota Pataka;
-Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam ibu kota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung; -Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) ibu kota di Imbanagara
-Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu ibu kota di Ciamis (sejak tahun 1812).
(a). Digantinya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis oleh Bupati Raden Tumenggung Sastra Winata pada Tahun 1916
(b).Pindahnya pusat pemerintahan dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis) oleh Bupati Raden AA.Wiradikusumah pada tanggal 15 Januari 1815
(c).Berpindahnya pusat Kabupaten Galuh dari Gara Tengah yang letaknya disekitar Cineam menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Ciamis pada tanggal 12 Juni 1642
Regard
Agus S Anwar Wiranata
Sumber: Facebook Kang David Riksa Buana

Naskah Ciburuy Pesan dari Jati diri Masyarakat Sunda


H.R.Hidayat Suryalaga
Ternyata berdasarkan data historis wilayah Garut-Suci mempunyai kedudukan yang sangat kuat dan mendasar dalam memberi warna pada karakter Urang Sunda/Jawa Barat. Berbahagialah kita yang kini masih berkesempatan untuk menyimak, menafakuri, dan mengamalkan kearifan lokal. Meskipun sedikit terlambat bagi kita untuk mengetahui nilai-nilai kearifan nenek moyang kita.
Demikian pula dalam khazanah naskah kuno Tatar Sunda, dikenal sebuah naskah  dengan nama AMANAT GALUNGGUNG atau SEWAKA DARMA atau  NASKAH CIBURUY (tempat ditemukannya naskah tsb. di daerah Garut) dengan kode Kropak No 632. Ditulis di atas 7 lembar daun nipah dengan menggunakan aksara Sunda.



AMANAT GALUNGGUNG
Amanat Galunggung  atau  Naskah Ciburuy (tempat ditemukannya naskah tsb. di daerah Garut); penulis berhasrat menyebutnya sebagai AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA.  Siapakah  Prabuguru Darmasiksa dan apa isi amanatnya itu. Kita coba runut dalam wacana di bawah ini:
Kerajaan Saunggalah  I  (Kuningan)
Awal kisah  di mulai dari wilayah yang disebut Kerajaan Saunggalah I, (sekarang di desa  Ciherang- Kadugede- Kab. Kuningan). kerajaan ini telah ada sejak awal abad 8 M. Diawali dengan Rajaresi Demunawan putera dari Rahiyang Sempakwaja dari Galunggung. Dalam pandangan hidup Urang Sunda ketika itu bila seorang Raja  bergelar Resiguru diyakini telah membuat sebuah ajaran (visi, pandangan hidup) yang dijadikan  acuan kehidupan masyarakatnya. Hal ini dibuktikan oleh salah seorang keturunannya yang melaksanakan ajaran tersebut, yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, memerintah selama 112 tahun !). Beliau menjadi raja di Saunggalah I seterusnya pindah menjadi raja di Saunggalah II (sekarang   daerah Mangunreja – Tasikmalaya), selanjutnya beliau diangkat  menjadi raja di Pakuan Pajajaran (Raja Sunda)
Nilai Kearifan Hidup yang terkandung dalam Naskah Amanat Prabuguru Darmasiksa – Amanat Galunggung
Prabuguru Darmasiksa inilah yang memberikan amanat  kepada keturunan dan masyarakat Tatar Saunggalah/ Tatar Tasikmalaya dan Tatar Sunda dengan diberi nama SEWAKA DARMA. Di bawah ini penulis kumpulkan instisari amanatnya dalam beberapa kelompok, yaitu:
Untuk Pegangan Hidup :
  • Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu  9 nama-nama raja leluhurnya. Ini menandakan kesadaran akan sejarah diri.
  • Prabu Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai  nasihat kepada seluruh keturunannya dan semuanya.
§  Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa  sendiri oleh orang asing.
§  Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan. Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.
§  Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan)  jangan sampai dikuasai orang asing,
  • Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan / tanah airnya.
  • Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.
  • Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk  diobati sebab diserang musuh yang “halus”.
  • Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk ilalang yang memenuhi  padang.
  • Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya.  Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.
  • Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.
  • Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.
  • Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.
  • Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat  ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.
  • Bila ajaran Prabu Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:
-          Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya;
-          Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan  makanan.
-          Ahli strategi akan unggul perangnya.
-          Pertanian akan subur dan akan panjang umur.
§  Ada tiga tatanan masyarakat yang bertanggungjawab atas terselenggaranya kesejahteraan lahir batin masyarakat, yaitu
ü  Fungsi SANG RAMA (keluarga, yang dituakan). Menganut falsafah gurat lemah (garis tanah), artinya sangat memperhatikan kesejahteraan bagi masyarakatnya
ü  Fungsi SANG  RESI (cerdik pandai, ilmuwan), Menganut falsafah gurat cai (garis air), bertanggung jawab atas kualitas moral dan kemajuan kehidupan  masyarakatnya.
ü  Fungsi SANG PRABU (birokrat, termasuk unsur Trias Politica). Menganut falsafah gurat batu (garis batu), bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan yang berdasarkan hukum. segala sesuatu  harus   sesuai dengan hukum, hukum dan peraturan  tidak boleh direka yasa.
  • Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran.
  • Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahim dengan sesama manusia. Itulah manusia yang mulia.
  • Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan. Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya.
  • Kita menjadi kaya karena kita bekerja,  dan itu berhasil tapanya.
  • Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/ tapa kita.
  • Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri.
  • Adalah tidak benar,  karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.
  • Tidak benar pula bila kita berkerja hanya karena ingin dipuji orang.
  • Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu. Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.
§  Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri. Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.
§  Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal;  banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.
  • Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.
  • Orang pemalas seibarat air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri bila melihat  keutamaan orang lain.
  • Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
  • Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun  akan seperti itu.
  • Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.
§  Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.
Perilaku Negatif
§  Jangan  merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus. Jangan menikah dengan saudara. Jangan membunuh yang tidak berdosa. Jangan merampas hak orang lain. Jang menyakiti orang yang tidak bersalah. Jangan saling mencurigai. Jangan memarahi orang yang tidak  bersalah. Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.Jangan berebut kedudukan. Jangan berebut penghasilan. Jangan berebut hadiah.Jangan berkata berteriak. Jangan berkata menyindir-nyindir. Jangan menjelekkan sesama orang. Jangan berbicara mengada-ada.
  • Ingatlah bahwa arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, yaitu manusia yang mempunyai karakter: Pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, lamban,lengah, mudah tersinggung/babarian, kurang semangat, gemar tiduran, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalu berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hati, rumit mengesalkan, aib, nista.

Perilaku Positif
§  Harus bersama-sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan,  ucapan  dan itikad yang bijaksana.Harus bersifat hakiki. Harus bersungguh-sungguh. Harus memikat hati. Murah senyum; berseri hati; mantap bicara
§  Yang disebut orang yang berkemampuan itu adalah orang  yang cekatan,  terampil, tulus hati, rajin, tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, perwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan/berani tampil. Yang dikatakan ini semuanya disebut orang yang “Berhasil tapanya. Benar-benar orang yang kaya. Tulah kesempurnaan amal yang mulia.
  • Perhatian harus  selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju
  • Senang akan keelokan/keindahan
  • Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.
  • Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.
§  Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

Kandungan Nilai:
§  Hidup harus mempunyai etika.
§  Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dikonotasikan sebagai tanah air (lemah cai, ibu pertiwi). Untuk orang Kuningan ya wilayahnya itulah tanah yang disucikannya. Untuk orang Sunda adalah Tatar Sunda-lah tanah yang disucikannya (kabuyutannya). Akhirnya seluruh persada bumi Pertiwi ini adalah tanah yang sakral bagi Bangsa Indonesia. Kesadaran akan keutuhan wilayah inilah yang kini disebut dengan kesadaran Geopolitis.
§  Siapa yang bisa menjaga tanah airnya  akan hidup bahagia.  Bisa dimaknai pula bahwa bila kita (bangsa Indonesia)  tetap dapat menjaga dan berdaulat di Nusantara ini, maka kita akan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang,
§  Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu. Jangan sampai dikuasai orang asing. Demikian pula dengan kedaulatan tanah air Indonesia hina dan menjijikan
  • Alangkah hinanya seorang anak bangsa, jauh  lebih hina dibandingkan dengan kulit musang (yang  berbau busuk) yang tercampak di tempat sampah (tempat yang hina dan berbau busuk ), bila anak bangsa tsb tidak  mampu mempertahankan tanah airnya. ( Pen: Dalam masa sekarang adalah kesadaran nasionalisme
  • Seorang ayah/orang tua harus menjadi kebanggaan puteranya/keturunannya.
  • Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten  akan mewujudkan ketenteraman dan keadil-makmuran. Hidup jangan serakah.
§  Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar. (tekad = itikad; ucap = ucapan, perkataan: lampah= aktualisasi, perilaku yang nyata)
  • Manusia perlu menyadari keadaan dirinya.
  • Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro-aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif.
  • Karakter yang negatif  membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat.
  • Minta dikasihani orang itu adalah tercela.
  • Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang bernas.
  • Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.
  • Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.
  • Sayangilah orang tua. Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang hukum para leluhur, agar hirup tidak tersesat.
  • Ada dahulu (masa lampau)  maka ada  sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.
  • Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.
  • Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya
  • Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
  • Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.
  • Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.
  • Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.
  • Ketidak-pastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini  disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka,  penguasa, para cerdik pandai,  para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.
  • Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.
  • Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepada cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.
  • Teguhkan semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

Pungkasan Wacana
Itulah intisari  naskah Galunggung (Kropak 632),  yang saya sebut pula dengan Amanat Prabuguru Darmasiksa dan ajarannya disebut dengan  Sewaka Darma.  Kini terpulang kepada kita dalam menelusuri, memilih serta memilah dan menyistemasikan nilai-nilai luhur yang diamanatkan oleh  Prabuguru Darmasiksa kepada kita, khususnya masyarakat tatar Garut- Suci.
Suatu waktu inysa-Alloh  masyarakat Garut serta para stakeholders lainnya akan mempunyai KARAKTER dan kualitas insaniah seperti yang tersirat dan tersurat dalam AMANAT GALUNGGUNG.   Karakter insan-insan seperti itulah yang akan  membantu terwujudnya masyarakat Madani Mardotillah, baik di tataran Loka maupun Nasional.. Amin!

Papatah Kolot Baheula

Paribasa atau pepatah yang sudah diinformasikan secara lisan turun temurun dari para leluhur (karuhun) untuk bekal menjalani kehidupan.Brikut papatah - papatah kolot bahula.. 


Hubungan Dengan Sesama Mahluk
  • Ngeduk cikur kedah mihatur nyokel jahe kedah micarek (Trust – ngak boleh korupsi, maling, nilep, dlsb… kalo mo ngambil sesuatu harus seijin yg punya).
  • Sacangreud pageuh sagolek pangkek (Commitment, menepati janji & consitent).
  • Ulah lunca linci luncat mulang udar tina tali gadang, omat ulah lali tina purwadaksina (integrity harus mengikuti etika yang ada)
  • Nyaur kudu diukur nyabda kudu di unggang (communication skill, berbicara harus tepat, jelas, bermakna.. tidak asbun).
  • Kudu hade gogod hade tagog (Appearance harus dijaga agar punya performance yg okeh dan harus consitent dengan perilakunya –> John Robert Power melakukan training ini mereka punya Personality Training, dlsb).
  • Kudu silih asih, silih asah jeung silih asuh (harus saling mencintai, memberi nasihat dan mengayomi).
  • Pondok jodo panjang baraya (siapapun walopun jodo kita tetap persaudaraan harus tetap dijaga)
  • Ulah ngaliarkeun taleus ateul (jangan menyebarkan isu hoax, memfitnah, dlsb).
  • Bengkung ngariung bongok ngaronyok (team works & solidarity dalam hal menghadapi kesulitan/ problems/ masalah harus di solve bersama).
  • Bobot pangayun timbang taraju (Logic, semua yang dilakukan harus penuh pertimbangan fairness, logic, common sense, dlsb)
  • Lain palid ku cikiih lain datang ku cileuncang (Vision, Mission, Goal, Directions, dlsb… kudu ada tujuan yg jelas sebelum melangkah).
  • Kudu nepi memeh indit (Planning & Simulation… harus tiba sebelum berangkat, make sure semuanya di prepare dulu).
  • Taraje nangeuh dulang pinande (setiap tugas harus dilaksanakan dengan baik dan benar).
  • Ulah pagiri- giri calik, pagirang- girang tampian (jangan berebut kekuasaan).
  • Ulah ngukur baju sasereg awak (Objektivitas, jangan melihat dari hanya kaca mata sendiri).
  • Ulah nyaliksik ku buuk leutik (jangan memperalat yang lemah/ rakyat jelata)
  • Ulah keok memeh dipacok (Ksatria, jangan mundur sebelum berupaya keras).
  • Kudu bisa kabulu kabale (Gawul, kemana aja bisa menyesuaikan diri).
  • Mun teu ngopek moal nyapek, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih (Research & Development, Ngulik, Ngoprek, segalanya harus pakai akal dan harus terus di ulik, di teliti, kalo sudah diteliti dan dijadikan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan).
  • Cai karacak ninggang batu laun laun jadi dekok (Persistent, keukeuh, semangat pantang mundur).
  • Neangan luang tipapada urang (Belajar mencari pengetahuan dari pengalaman orang lain).
  • Nu lain kudu dilainkeun nu enya kudu dienyakeun (speak the truth nothing but the truth).
  • Kudu paheuyeuk- heuyeuk leungeun paantay-antay tangan (saling bekerjasama membangun kemitraan yang kuat).
  • Ulah taluk pedah jauh tong hoream pedah anggang jauh kudu dijugjug anggang kudu diteang (maju terus pantang mundur).
  • Ka cai jadi saleuwi kadarat jadi salogak (Kompak/ team work).
  • Jeung sajabina 
Hubungan Dengan Tuhan (Yang Maha Kuasa)
  • Mulih kajati mulang kaasal (semuanya berasal dari Yang Maha Kuasa yang maha murbeng alam, semua orang akan kembali keasalnya).
  • Dihin pinasti anyar pinanggih (semua kejadian telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa yang selalu menjaga hukum-hukumnya).
  • Melak cabe jadi cabe melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade melak goreng jadi goreng (Hukum Yang Maha Kuasa adalah selalu menjaga hukum-2nya, apa yang ditanam itulah yang dituai, kalau kita menanam kebaikan walaupun sekecil elektron tetep akan dibalas kebaikan pula, kalau kita menanam keburukan maka keburukan pula yg didapat….
  • Manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna (Gunakan akal dalam melangkah, buat apa Yang Maha Kuasa menciptakan akal kalau tidak digunakan sebagai mestinya).
  • Nimu luang tina burang (semua kejadian pasti ada hikmah/ manfaatnya apabila kita bisa menyikapinya dengan cara yang positive).
  • Omat urang kudu bisa ngaji diri (kita harus bisa mengkaji diri sendiri jangan suka menyalahkan orang lain)
  • Urang kudu jadi ajug ulah jadi lilin (Jangan sampai kita terbakar oleh ucapan kita, misalnya kita memberikan nasihat yagn baik kepada orang lain tapi dalam kenyataan sehari- hari kita terbakar oleh nasihat-2 yang kita berikan kepada yang lain tsb, seperti layaknya lilin yang memberikan penerangan tapi ikut terbakar abis bersama api yang dihasilkan).
  • Jeung Sajabina.
Hubungan Dengan Alam
  • Gunung teu meunang di lebur, sagara teu meunang di ruksak, buyut teu meunang di rempak (Sustainable Development ~ Gunung tidak boleh dihancurkan, laut tidak boleh dirusak dan sejarah tidak boleh dilupakan… harus serasi dengan alam.).
  • Tatangkalan dileuweung teh kudu di pupusti (Pepohonan di hutan ituh harus di hormati, harus dibedakan istilah dipupusti (dihormati) dengan dipigusti (di Tuhankan) banyak yang salah arti disini).
  • Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak (hutan harus dijaga, sumber air harus dimaintain kalo tidak maka manusia akan sengsara).
Sareng Sajabiina.

Nama - Nama Raja Di Tatar Sunda

  • RAJA - RAJA SALAKANAGARA
    1. Dewawaran I                                                        130 - 18  M
    2. Dewawaran II                                                      168 - 195 M
    3. Dewawaran III                                                     195 - 238 M
    4.  Dewawaran IV   ( menantu A.3 )                         238 - 251 M
    5. Dewawaran V     ( Menantu A.4 )                         251 - 289 M   
    6. Dewawaran VI                                                     289 - 340 M
    7. Dewawaran                                                          308 - 340 M
    8. Dewawaran                                                          340 - 362 M
  • RAJA - RAJA TARUMANGARA
    1. Jayasingawarman ( Mnantu A.8)                            358 - 382 M
    2. Darayawarman                                                      382 - 392 M
    3. Purnawaran                                                           395 - 434 M
    4. Wisnuwarman                                                        434 - 455 M
    5. Indrawarman                                                         455 - 515 M
    6. Candrawarman                                                      515 - 535 M
    7.  Suryawarman                                                       535 - 561 M
    8. Kertawarman                                                        561 - 628 M
    9. Sudawarman ( adik B.8 )                                      628 - 639 M
    10.  Dewamurti                                                           639 - 640 M
    11. Nagayawaran ( Menantu B.10 )                            640 - 666 M
    12. Linggawarman                                                      666 - 669 M
  • RAJA - RAJA KENDAN / GALUH
    1. Manikmaya ( menantu B.7 )                                  538 - 568 M
    2. Suraliman Sakti                                                    568 - 597 M
    3. Kandiawan Dwaraja                                            597 - 612 M
    4. Wretikandayun ( Galuh )                                       612 - 702 M
    5. Mandiminyak                                                       702 - 709 M
    6. Bratasenawa                                                        709 - 716 M
    7. Purbasora ( manakan C.5 )                                  716 - 723 M
    8. Sanjaya ( Putera C.6 )                                         723 - 732 M
    9. Tapran Barmawijaya                                            732 - 739 M
    10. Manarah ( Surotama ) ( Cicit C.7 )                      739 - 783 M
    11. Manisri ( Menantu C.10)                                     783 - 799 M
    12. Tariwulan                                                            799 - 786 M
    13. Welengan                                                            806 - 813 M
    14. Linggabumi                                                          813 - 852 M
  • RAJA - RAJA SUNDA
    1. Tarusbaya ( Menantu B.12 )                                 669 - 723 M
    2. Harisdarma ( Cucu enantu D.1=C8 )                    723 - 732 M
    3. Taperan Barmawijaya (=C9)                                732 - 739 M
    4. Rakeyan Banga                                                    739 - 766 M
    5. Rakeyan edang Prabu Hulukujang                        766 - 783 M
    6. Prabu Gilingwesi ( enantu D.5 )                            783 - 795 M
    7. Pucuk Bumi Darmeswara ( Menantu D.6 )            795 - 819 M
    8. Rakeytan wuwus Prabu Gajah Kulon                    819 - 891 M
    9. Prabu Darmaraksa ( Adik ipar D.8 )                     891 - 895 M
    10. Windusakti Prabu Dwageng                                  895 - 913 M
    11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwsi         913 - 916 M
    12. Rakyan Jayagiri ( Menantu D.11 )                         916 - 942 M
    13. Atmayadarma Hariwangsa                                    942 - 954 M
    14. Libur Kancana ( Putera D 11 )                              954 - 964 M
    15. Munding Garnawirya                                             964 - 973 M
    16. Rakeyan Wulung Gadung                                       973 - 989 M
    17. Brajawisesa                                                          989 - 1012 M
    18. Dewa Sanghiyang                                                 1012 - 1019 M
    19. Sanghiyang Ageng                                                1019 - 1030 M
    20. Sri Jayabupati ( Detya Maharraaja                        1030 - 1042 M
    21. Darmaraja ( Sang okteng Windureja )                   1042 - 1065 M
    22. Langlang Bumi ( Sang Mokteng Kreta )                1065 - 1155 M
    23. Rakeyan jayagiri Prabu Mnak luhur                       1155 - 1157 M
    24. Darakusuma ( Sang Moktng Winduraja )               1157 - 1175 M
    25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu                     1175 1297 M
    26. Ragasuci ( Sang Okteng Taman )                           1297 - 1303 M
    27. Citraganda ( Sang Mokteng Tanjjung )                   1303 - 1311 M
  • RAJA - RAJA KAWALI
    1. Linggadewata ( Sang Moteng Kika )                      1311 - 1333 M
    2. Linggawisesa                                                          1333 - 1340 M
    3. Ragaulya ( Ki KOlot )                                            1340 - 1350 M
    4. Linggabuana ( Sang Moktng Bubat )                       1350 1357 M
    5. Bunisora Suradipati ( Adik E.4 )                             1357 - 1371 M
    6. Niskala Wastukancana ( S> Nusalarang )                1371 - 1475 M
    7. a.Susuk Tunggal ( Di Pakuan )                                1382  - 1482 M
    8. Ningrat Kancana ( Dwa Niskala ) Di Galuh             1475 - 1482 M
  • RAJA -RAJA PAJAJARAN
    1. Sri Baduga Maharaja                                             1482 - 1521 M
    2. Surawisesa ( Ratu Sangiang )                                 1521 - 1535M
    3. Ratu DwataBuana                                                 1535 - 1543 M
    4. Ratu Sakti                                                             1543 - 1551 M
    5. Nilakendra ( Tohaan Di ajaya ) `                            1551 - 1567 M
    6. Ragamulya Suryakancana                                      1567 - 1579 M










































































Amanat Dari Galunggung


Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan ngana mangke
Aya ma baheula hanteu tu ayeuna
Hana tunggak hana watang
Tan hana tunggak tan hana watang
Hana ma tunggulna aya tu catangna

Ada dahulu ada sekarang
Bila tak ada dahulu tak kan ada massa sekarang
Karena ada massa silam maka ada massa kini
Ada tonggak tentu ada batang
Bila tak ada tonggak tentu tak ada batang
Bila ada tunguhnya tentu ada catangnya.

Koropak 632 Kabuyutan Ciburuy

Friday, May 11, 2012

Lembur Panineungan

TANGKOLO LEMBUR PANINEUNGAN 
Lampah Buru gancang nepi Kiwari nu datang rasa 
Dina bagja mangsa aya Kade susah tumarima 
Lamun enya seja tafakur Huripna hirup teu manggih tungtung,
 Mangka hade …..
 Sing inget kana purwadaksi Baheula urang ngajanji..

Palatar nu jadi saksi…
Tuh tingali dulur nu di lembur Anu satia neang cai 
 Dina mangsa molah nu kahiji Cijolang nu meungkeut ati.
 Kamana lumpatna anjeun Cihanjaro tetep ngabukti
 Ku ayana rangrang nu ngajadi sangkan bisa naheur cai.
 Saluhur naen pangkat anjeun Tuh tingali…… 
Moal tiasa ngaruntuhkeun ayana gunung pataka 
 Anu jadi pamageuh puseurna lembur nu dipikacinta,
 Buktosna lembur tangkolo
 Bral…….ku anjeun sakabeh dulur…..
 Hayu….sing emut kana panineungan, anu ngajadi kana jati diri…..! 
 Ti mimiti ayeuna, lamun henteu ku urang bade kusaha deui
Anu tiasa ngarahayukeun lembur Tangkolo.
 Di lembur di pangumbaraan Urang sadaya kabeh oge dulur Dulur anu sa lemah cai…... 
Suryadillaga Putra

Monday, December 19, 2011

Sejarah Penamaan Desa Tangkolo


Tangkolo. Pada abad ke-18 di pinggir sungai Cijolang tumbuh sebatang pohon kayu yang besar dan tinggi serta kokoh berdiri tegak dan pohon besar ini oleh masyarakat setempat disebut pohon Kitangkolo.
Berdasarkan keterangan yang bersumber dari para sesepuh leluhur pendahulu kita istilah Tangkolo diambil dari nama pohon Kitangkolo itu.

Kitangkolo ini nama sejenis pepohonan hutan liar yang tidak sengaja ditanam, tetapi tumbuh secara alamiah di daerah kampung Tangkolo sekarang. Jenis pohon Kitangkolo ini pada waktu itu tidak terdapat di tempat lain kecuali di daerah ini.
Penggunnan nama pohona yang dipakai menjadi nama suatu tempat dimasyarakat Pasundan di masa lampau rupanya sudah menjadi kebiasaan umum, hal ini masih dapat kita lihat sekarang banyaknya kampung-kampung atau tempat tertentu yang ada disekeliling kampung Tangkolo yang menggunakan nama jenis pepohonan seperti :
  1. Di bagian Selatan terdapat nama : Cimuncang, Cibuluh, Cigintung, Cibitung, Kawung Larang, Karang Pari, Kadu Pandak, Tainiang Ropoh, Kaso dan lain-lain
  2. Di bagian Timur terdapat nama : Cikadu, Cipicung, Cikanyere, Tegal Laja, Kembang Lopang, Serang Kole atau Sarang Kole, Kadu Pugur dan lain-lain.
  3. Di bagian Utara terdapat nama : Ciawi, Citangkil, Tanggulun, Bungur Sarang, Jati Peundeuy Raweuy, Bulak Caringin, Cigedang dan lain-lain.
  4. 4. Di bagian Barat terdapat nama : Kamuning, Kuta Manggu, Selajambe, Kadu Cede, Maja, Majalengka, Jati Wangi, Kandang Haur, Haur Geulis dan lain-lain.
Penggunaan tambahan suku kata "Ci" yang berasal dan kata "cai" di depan nama pepohonan yang digunakan dalam uraian di atas, biasanya dipergunakan untuk menunjukan nama suatu sungai atau nama tempat dimana kampung yang dilalui oleh aliran sungai - atau kampung itu menempel di pinggir sungai yang bersangkutan, seperti : Ci-gintung adalah nama sungai juga nama kampung.
Meskipun demikian ada juga yang tidak berdekatan apalagi berimpitan seperti kampung Subang tidak berimpit dengan sungai Ci-subang dan gunung subang. Mengenai penempatan perkampungan dipinggir sungai dapat kita pahami karena untuk memudahkan dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk kehidupan masyarakat sehari-hari dan sarana angkutan lalu-lintas sehingga pemukiman diusahakan berdekatan dengan sungai dan sekaligus mengunakan nama sungai tersebut menjadi nama pemukimannya.

Cikal Bakal Kampung Tangkolo

1. Kiara Beas Dusun Yang Terkubur Waktu
Diperkirakan pada pertengahan abad ke-17, di wilayah Subang Selatan dimasa lampau terdapat suatu pemukiman yang paling awal dengan lokasi di Bulakan Kiara Beas. Pemukiman penduduk di Kiara Beas ini, pada waktu itu di tempati oleh penduduk yang meiniliki areal usaha pertanian di wilayah sekitar pemukiman itu. Tempat itu dianggap paling baik karena berbagai pertimbangan artara lain sebagai berikut :
  • Penduduk berusaha mendekati areal pertanian yang cukup luas di bagian Selatan Subang sekaligus dalam rangka menjaga usaha pertanian dari gangguan binatang liar yang merusak tanaman para petani.
  • Para petani ini semula terpencar, memilih tempat tinggal sesuai dengan letak tempat usaha tani masing-masing. Namun dalam perkembangan berikutnya untuk menjaga keamanan tempat tinggal dari gangguan binatang buas, mereka berkumpul di suatu tempat yang disepakati dan memilih dataran bulakan yang tinggi.
  • Tempat pemukiman mereka disebut Kiara Beas yang mengandung arti pohon beringin beras yang membentuk hutan lebat dan diataranya terdapat sebuah pohon yang lebih besar yang biasanya disebut Kiara, dan salah satu pohon besar itu bernama Kiara Beas.
  • Bulakan daerah Kiara Beas ini karena pada awalnya merupakan hutan belukar para perduduk membuat bangunan rumah dengan lantai yang tinggi yang disebut rumah panggung, yaitu bangunan rumah yang tinggi kolongnya sehingga tidak mudah dimasuki binatang liar.
  • Pemukiman ini semakin lama semakm berkembang penduduknya, namun dilain pihak timbul permasalahan baru yaitu meningkatnya tingkat kematian penduduk di pemukiman ini yang disebabkan oleh serangan wabah penyakit dan banyaknya yang mati karena digigit ular berbisa.
  • Karena tingginya tingkat kematian penduduk ini, selanjutnya satu persatu diantara mereka berpindah tempat tinggalnya bahkan akhirnya semua berpindah dari kampung Kiara Beas, bergerak ke arah selatan dan mereka memilih tempat tinggal di pingir sungai Cijolang yang sudah dihuni oleh penduduk.Penduduk Kiara Beas sebagai cikal bakal penduduk kampung Tangkolo, yang bermigrasi dan Subang kemungkinan berasal dari keturunan Wirananggapati yang sudah berasimilasi dengan penduduk setempat. Menurut catatan yang ada Wiranangganati adalah kuwu pertama di Desa Subang yang pada waktu itu disebut Dalem dan beliau menjabat sebagai Kuwu dari tahun 1630-1660.
2. Pemukiman Penduduk Di sekitar Gunung Susuh
Diperkirakan pada abad ke-17, di antara para petani yang berpindah ke arah selatan ini, ada jaga petani lain yang datang dan Subang Barat sebanyak dua kepala keluarga dari satu keturunan Pedukuhan Cimanggang, yang memilih lokasi tinggal di daerah selatan, mereka itu adalah kakak beradik :
  •  Candradiwangsa memilih tinggal didataran yang agak tinggi di sebelah utara gunung Susuh yaitu di Cidempul sekarang tetapi areal lokasi pertanian yang dipilih di daerah Selatan yang berdekatan dengan sungai Cijolang, kira-kira didaerah pemukiman Tangkolo sekarang.
  • Adiknya yang bemama Candradinata memilih tinggal di sebelah selatan gunung Susuh dan diperkirakan berada di sebelah timur Masjid Al-Furkon Mandalawangi, bahkan menurut penjelasan dari para-sesepuh tepatnya dilokasi bekas rumah Aki Madnawi. Adiknya ini memilih lokasi pertanian di dataran rendah juga, dengan mengambil lokasi dari selatan keaarh utara, memanjang mengikuti sepanjang sungai Ciawi kearah hulu.Perlu ditambahkan di sini bahwa irigrasi penduduk dan Subang Barat ke Daerah sekitar Gunung Susuh, diperkirakan pada masa Kuwu Jayadirana yang menjabat kepala Desa Subang mulai dari tahun 1725-1755 dan kuburan beliau berada di makam Cimanggang.

3. Pemukiman Penduduk Di Pingir Sungai Cijolang
Di pinggir sungai Cijolang di areal yang berbatasan dengan wilayah Ciamis, ada juga rumah pmduduk, di tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohonan yang besar, dan diantaranya ada salah satu pohon terbesar dan tertinggi yang disebut pohon Kitangkolo.Lokasi tempat pohon Kitangkolo ini diperkirakan berada diantara pemukiman Tangkolo sekarang dan Sungai Cigintung. Kemungkinan berada pada areal pesawahan di sebelah timur jembatan penghubung antara Cigintung dan Bantar Dengdeng.

4. Pergeseran Pemukiman Para Petani
Rupanya akibat adanya pergeseran tempat tinggal, yang mulanya hanya satu dua rumah saja akhirnya seluruh pemukim berpindah semua dari Kiara Beas. Menuju kearah Selatan secara keseluruhan. Maka terjadilah penggabungan penduduk. Pengabungan ini bukan hanya dari Kiara Beas, tetapi diikuti pula oleh penduduk yang terpencar di beberapa kelompok lainnya, yang tadinya terpisah dan bertebaran, berhimpun kedalam satu kelompok yang berada di wilayah selatan semua. Akhimya para pemukim gabungan yang semula bertebaran ini merjadi satu kesatuan kelompok penduduk dan menjadi cikal bakal peaduduk kampung Tangkolo.

5. Terbentuknya Kampung Tangkolo
a. Penduduk Awal Kampung Tangkolo.
Diperkirakan pada awal abad Ke-18 pemukiman para petani yang berdekatan dengan sungai Cijolang yang selanjutnya oleh penduduk setempat disebut Kampung Tangkolo ini baru dihuni tujuh kepala keluarga. Ketujuh kepala keluarga ini kemungkinan berasal dari satu keluarga kehidupan mereka sehari-harinya adalah bertani dengan kebudayaannya adalah Islam, karena agama yang dianut oleh mereka adalah agama Islam.

b. Buyut Jamudin
Berdasarkan cerita yang dituturkan oleh para orang tua, pada suatu waktu Kampung Tangkolo kedatangan seorang tamu yang mengaku bernama Jamudin. Selanjutnya Jamudin itu menjadi penduduk Kampung Tangkolo karena tidak kembali palang lagi ke kampung asalnya, bahkan beliau menikah dengan penduduk Kampung Tangkolo.Menurut jangakuan Jamudin, dia berasal dan Kesultanan Cirebon, tetapi sebagian orang tua menyatakan bahwa Jamudin itu sebenamya berasal dari Mataram. Kalau berasal dan keturunan Mataram, ada kemungkinan keturunan dan sisa-sisa laskar Sultan Agung Mataram yang bertebaran di sepanjang pantai utara Jawa Barat. Para laskar pejuang Mataram yang tidak kembali ini di dalam sejarah dinyatakan bahwa mereka mendapat perlindungan dari Sultan Cirebon. Sisa-sisa laskar Sultan Agung yang mendapat perlindungan Sultan Cirebon ditempatkan disuatu tempat pemukiman yang telah ditentukan oleh Sultan, antara lain di Kecamatan Gegesik sekarang dekat wilayah Palimanan Cirebon.Jamudin rupanya termasuk pemuda yang tinggi ilmunya, mempunyai beberapa keistimewaan, diantaranya punya ilmu pelindung diri yaitu ilmu kekebalan tubuh dan dapat menghilang dengan cepat apabila bertemu dengan musuhya. Jamudin ini selanjutnya di kemudian hari, di masyarakat dikenal dengan nama Buyut Jamudin. Rupanya beliau adalah salah seorang diantara kelompok orarig yang memberontak kepada Pemerintah Kolonial Belanda. Sehingga beliau senantiasa dikejar dan dicari serta di ikuti kemanapun dia pergi dan diawasi segala sepak terjangnya. Oleh karena itu kedatangannya di Kampung Tangkolo rupanya dalam rangka menyembunyikan dirinya dari kejaran Pemerintah Kolonial Belanda.Setelah sekian lama Jamudin bersembunyi di Kampung Tangkolo akhirnya Pemerintah Kolonial Belanda dengan segala daya upaya dapat mencium keberadaannya sehingga Pemerintah Kolonial Belanda yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis berusaha masuk ke Kampung Tangkolo dengan cara diam-diam untuk mencoba menangkap Jamudin.Sebelum Belanda datang Jamudin sebenarnya sudah mempunyai firasat akan ditangkap oleh Belanda karena dia pernah berkata kepada teman-temannva bihwa Kita akan kedatangan tamu yaitu Belanda dan akan menangkap dirinya. Jamudin berpesan kepada para pemuda teman-teman sejawatnya, atas kedatangan Belanda ini kita sambut dengan baik-baik saja, tidak boleh menggunakan kekerasan karena kita tidak akan mampu memberikan perlawanan.
Sesuai dengan perkiraan yang sudah menjadi firasat Jamudin, Belanda datang dari arah selatan dari Kabupaten Ciamis. Jamudin tentu saja sudah siap menghadapi Belanda dengan menggunakan segala ilmu yang dimilikinya, antara lain membaca mantra-mantra untuk memainkan ilmu dalamnya dan sekaligus memakai baju Kere warisan yang dimiliki dari leluhurnya, sehingga Jamudin dapat menghilang dengan cepat dan tidak dapat dilihat oleh Belanda serta selamatlah beliau dan kejaran musuh.Pemerintah Belanda merasa kecewa karena gagalnya menangkap tokoh Jamudin yang sudah diyakini oleh mereka keberadaannya di Kampung Tangkolo. Meskipun demikian Jamudin tetap sebagai musuh yang dicari dan harus ditangkap karena dimanapun dia berada akan merugikan Pemerintah Kolonial Belanda. Segala kegiatannya selalu di cungai karena selalu mengobarkan perjuangan untuk melawan Belanda dengan segala cara, termasuk mengerahkan masyarakat dalam setiap kesempatan dengan segala cara yang licin dan halus serta diyakini oleh para pemuda kebenaran ucapannya. Mereka dipersiapkan secara matang, apabila disuatu saat sudah mempunyai kekuatan kita bersama-sama akan berjuang dengan pemuda-pemuda lainnya di luar kampung Tangkolo untuk melawan kepada penjajah Belanda.Pada akhir masa tuanya Jamudin merasa bahwa mungkin umurnya sudah tidak seberapa lama lagi oleh karena itu ilmu yang dimilikinya harus segera dilepaskan dari dirinya dan diwariskan kepada anak-anaknya, serta anak buahnya, sebagai bekal untuk perjuangan melawan penjajah Belanda. Namun demikian salah satu diantara senjata yang dimilikinya yaitu yang disebut baju Kere tidak diberikan kepada siapapun, sebab baju ini tidak boleh diwariskan kepada sembarang orang, yang menurut penilaian beliau belum pantas memiliki senjata warisannya.Di saat-saat Buyut Jamudin sudah lanjut usia dan keadaan fisiknya juga sudah lemah serta merasa dirinya sudah sangat aman dari intaian pemerintah Belanda, maka kewaspadaan dan keteguhan untuk tetap memegang senjata baju Kere itu agak mengendur. Dalam kondisi fikiran dan fisik tokok Buyut Jamudin yang sakit-sakitah, pada suatu hari Buyut Jamudin kedatangan seorang tokoh masyarakat dari dusun tetangga diseberang sungai Cijolang, yang menyatakan hasrat dirinya ingin memiliki baju Kere yang menjadi senjata Buyut Jamudin, untuk digunakan sebagai alat bela diri dalam melanjutkan perjuangan Buyut Jamudin menghadapi gangguan dari penjajah Belanda.Tamu itu datang menghadap beliau dengan penuh rasa hormat, di samping menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perjuangan Buyut Jamudin., juga mengajukan penawaran kepada Buyut Jamudin, bahwa sebagai ungkapan rasa terima kasih dan tanda hormat serta penghargaan, yang bersangkutan akan menyerahkan tujuh ekor kerbau miliknya kepada Buyut Jamudin, apabila baju Kere milik Buyut diberikan kepadanya. Buyut Jamudin dengan senang hati dan tulus ikhlas menyerahkan Baju Kere dan bersedia menerima imbalan jasa yang ditawarkan, disertai dengan amanat Buyut Jamudin bahwa baju kere ini tidak boleh dipergunakan oleh sembarangan orang, karena hanya boleh digunakan oleh petinggi negara apabila dalam keadaan terpaksa karena mendapat gangguan keamanan bagi dirinya.Berita tukar menukar baju Kere dengan tujuh ekor kerbau ini pada akhirnya ternyata sampai terdengar oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Ciamis sehingga dengan dilepaskannya baju Kere oleh Buyut Jamudin, Belanda mengetahui kelemahan diri Buyut Jamudin. Karena itu pihak Belanda menemukan jalan dan berani untuk menangkap Buyut Jamudin yang selama ini telah menjadi buronan agar segera dapat ditangkap.Pada saat yang bersamaan Pemerintah Kolonial Belanda di Ciamis mendapat laporan bahwa salah seorang penduduk tetangga Kampung Tangkolo ada yang kehilangan dua ekor kerbau. Pemerintah Kolonial Belanda dengan segala cara mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk menargkap pencurinya. Setelah dicari kemana-mana ternyata dua ekor kerbau yang hilang ini ada di ikat di kandang kerbau Buyut Jamudin, sehingga jumlah kerbau yang ada di tempat Buyut Jamudin bukan tujuh ekor kerbau lagi melainkan menjadi sembilan ekor. Bekas kandang kerbau Buyut Jamudin di perkirakan terletak di Sawah Cibanjar Sekarang.Bertambahnya dua ekor kerbau yang disebut hasil curian itu, mungkin hanya siasat pemerintah Belanda untuk memudahkan penangkapan, dengan cara menyuruh pencuri bayaran untuk menyelundupkan dua ekor kerbau ke kandang Buyut Jamudin.Kondisi Buyut Jamudin saat itu sudah tidak bisa menghilang lagi seperti pada peristiwa penangkapan dulu, karena semua ilmu kekebalannya sudah dilepas dari dirinya dan diwariskan kepada putra-putra dan pengikutnya termasuk baju Kere yang menjadi andalannya sudah di serahkan kepada orang lain sehingga pemerintah Belanda dengan mudah dapat menangkapnya.Buyut Jamudin tidak mengaku mencuri dua ekor kerbau, karena memang beliau tidak merasa mencuri tetapi pemerintah Belanda yang sudah lama mengejar Jamudin untuk menangkap dan menjebloskannya kedalam penjara bersikukuh tetap menyalahkan Buyut Jamudin. Bukti dan fakta pencurian, adanya dua ekor kerbau itu sudah merupakan alasan kuat untuk menangkapnya sehingga para pengikutnya sulit untuk membela Buyut Jamudin dan tidak bisa lagi menyalahkan Pemerintah Kolonial Belanda.Buyut Jamudin setelah ditangkap dan diadili di pengadilan Belanda di Ciamis dijatuhi hukuman dengan cara di buang ke Batavia, agar terputus hubungannya dengan para pendukung beliau. Sebagian orang tua menyatakan bahwa Buyut Jamudin di bawa ke Batavia itu untuk selanjutnya akau dibuang ke luar Jawa. Namun setelah sampai di Batavia, Buyut Jamudin dengan menggunakan kemampuan ilmunya yang masih tersisa, masih bisa meloloskan diri dari tahanan Belanda dan akhirnya bersembunyi di pelabuhan Sunda Kelapa. Tetapi karena keadaan Buyut Jamudin sudah terlalu tua dan sering sakit-sakitan, beliau tidak lama di persembunyiannya dan akhinya meninggal dunia di daerah Sunda Kelapa dan menurut penuturan para sesepuh, jenazahnya dimakamkan di Luar Batang.Pemberian hukuman kepada para pejuang dengan cara membuang ke tempat yang jauh dari masyarakat lingkungannya, sudah merupakan kebiasaan Pemerittah Kolonial Belanda pada waktu itu, seperti tokoh Kuningan yang dibuang ke Batavia sampai akhir hayatnya meninggal dan dimakamkan di Batavia, sehingga sampai sekarang bekas tempat pembuangannya di sebut Kuningan di wilayah kotamadya Jakarta Selatan.

Pelataran KampungTangkolo

Sebagaimana telah kita maklumi bersama bahwa Tangkolo pada awalnya adalah sebuah kampung yang menjadi bagian dari desa Subang, berada di dataran rendah dengan pelatarannya yang rata dan hampir seluruh tanah perkampungannya mcngandung pasir berlumpur batu kerikil sungai, karena kampung ini dikelilingi oleh sungai. Di musim hujan tanahnya tidak terlalu becek disebabkan oleh kuatnya daya serap pasir terhadap genangan air.Letak kampung Tangkolo berada di pinggir sungai besar, pada musim hujan sering terjadi banjir akibat luapan air sungai, bahkan sering terjadi banjir meskipun di tempat ini tidak ada hujan, banjir yang seperti ini di sebut banjir bandang atau banjir kiriman yang diakibatkan karena terjadi hujan lebat di bagian hulu sungai, di masyarakat setempat disebutnya Caah Lengdeng, istilah ini masih menempel pada nama suatu kampung yang berdekatan yaitu Bantar Dengdeng.Jika dihhat dan segi jumlah penduduk dan luasnya kampung, pada waktu itu masih merupakan suatu pemukiman kecil yang masih sedikit penduduknya, dan merupakan salah satu perkampungan di bagian selatan desa Subang. Secara geografis letaknya terpencil paling selatan dengan jarak tempuh yang paling jauh dan ibukota desa saat itu sehingga sulit untuk dijangkau karena harus ditempuh dengan berjalan kaki. turun naik, berliku-liku melalui hutan-hutan lebat dan pegunungan yang memanjang dari utara ke selatan. Selain itu hanya dapat ditempuh melalui jalur sungai Cijolang dengan mengikuti aliran air sungai dari hulu ke hilir.Kampung Tangkolo sebagai bagian dari Desa Subang yang paling Selatan ini merupakan satu hamparan daratan yang dilalui oleh sungai Ciawi dan Citangkil disebelah timur dan dilingkari oleh sungai Cijolang mulai dari sebelah Barat dan berbelok kesebelah selatan yang menjadi batas alam antara Kabupaten Kuningan dengan Kabupaten Ciamis.Karena kondisi kampung Tangkolo seperti di atas maka tidak heran kalau kampung ini merupakan satu-satunya kampung yang dianggap paling rata tanahnya, paling bersih, tertutup pasir sungai dan paling indah di lingkar wilayah desa Subang di bagian Selatan.Kondisi permukaan bumi kampung Tangkolo pada masa itu merupakan dataran rendah yang hijau yang ditumbuhi pohon-pohonan yang tumbuh alami, berada di sebuah lembah pegunungan yang diapit oleh sungai kecil dan besar bagaikan tanjung ditengah daratan yang menjorok jauh dan Utara ke daratan Selatan yang masuk wilayah Ciainis. Tanjung di daratan ini dibingkai oleh suatu pantai pasir sungai seperti pantai di laut dangkal yang dikelilingi oleh air sungai yang keruh dimusim penghujan dan dikelilingi air bersih yang bening dikala musim kemarau datang.Apabila dilihat dari dataran tinggi yang ada di atas sekelilingnya, sungai Cijolang bagaikan ular raksasa yang sedang tidur nyenyak dengan melingkar-lingkar melengkung membelit pelataran hutan wilayah Tangkolo, dengan kepala ada digupitan Ranto dan ekornya menjulur panjang berliku-liku ke arah Utara.
ket : Dikutip dari warta desta.